TATA-TITI KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI BERDASARKAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL SAD KERTHI dalam BALI ERA BARU

by -


Denpasar, Baliinside.id – Sebagai implementasi Visi: “NANGUN SAT KERTHI LOKA BALI” melalui Pola
Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, Pemerintah Provinsi Bali
menerbitkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 tentang
Tatanan/Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan
Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru. Surat Edaran ini dicanangkan secara resmi
oleh Gubernur Bali, Wayan Koster bertempat di Pura Samuan Tiga, Bedulu,
Gianyar, dan mulai berlaku pada hari Selasa (Anggara Kliwon/Anggara Kasih,
Tambir) tanggal 4 Januari 2022.


Pelaksanaan Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Untuk Atma Kerthi
Diuraikan Sebagai Berikut. Pelaksanaan Atma Kerthi secara Niskala dengan Upacara Yadnya dan
persembayangan bersama pada Tumpek Landep, Tumpek Kuningan, Tumpek Wayang,
dan Rerahinan Jagat: 1) Pemerintah Daerah di Pura Kahyangan Jagat dan Pura Dang
Kahyangan; 2) Majelis Desa Adat di Pura Kahyangan Jagat, Dang Kahyangan Jagat,
dan Pura Kahyangan Tiga; 3) Lembaga Vertikal di Tempat Suci masing-masing; 4)
Desa, Kelurahan, dan 5) Desa Adat di Kahyangan Desa masing-masing; 6) Keluarga
di Sanggah/Merajan masing-masing; 7) Lembaga Pendidikan dan 8) Organisasi
Kemasyarakatan serta Swasta di Tempat Suci masing-masing lembaga; 9)
Masyarakat di Pura Kahyangan Jagat, Sad/Dang Kahyangan/Kahyangan
Tiga/Kawitan.


Pelaksanaan Atma Kerthi secara Sakala: 1) Pemerintah Daerah melaksanakan
pembangunan dan/atau perbaikan Palinggih/Pura/Tempat Suci; 2) Majelis Desa
Adat melaksanakan koordinasi dengan seluruh Desa Adat terkait tentang
Pelindungan Pura, Pratima, Simbol Keagamaan, Pelaksanaan Upacara dan Upakara;
3) Lembaga Vertikal menyebarluaskan isi, ajaran, dan makna-makna susastra agama
yang disuratkan dalam lontar dan/atau Kitab-Kitab Suci dalam berbagai media
informasi dan komunikasi; 4) Desa dan Kelurahan memfasilitasi pembangunan
dan/atau perbaikan Palinggih/Pura/Tempat Suci serta menyebarluaskan isi, ajaran,
dan makna-makna susastra agama yang disuratkan dalam Lontar dan/atau KitabKitab Suci dalam berbagai media informasi dan komunikasi; 5) Desa Adat membangun dan/atau perbaikan Palinggih/Pura/Tempat Suci, menyusun Purana, Pura, melaksanakan rekonstruksi/revitalisasi Seni Sakral, menyusun dan
menetapkan Awig-Awig/Pararem tentang Pelindungan Pura, Pratima, dan Simbol
Keagamaan; 6) Keluarga membangun/memperbaiki/merawat Palinggih, Merajan, dan
Kawitan; 7) Lembaga Pendidikan menyebarluaskan isi, ajaran dan nilai-nilai kearifan
lokal Sad Kerthi secara langsung kepada masyarakat dan melalui berbagai media
serta melaksanakan pembelajaran dan menyediakan tenaga ahli tentang Seni Sakral;
8) Organisasi Kemasyarakatan dan Swasta memfasilitasi kegiatan
rekonstruksi/revitalisasi Seni Sakral serta memfasilitasi penyediaan sarana dan
prasarana penunjang Tempat Suci, seperti: tempat sampah dan toilet; 9) Masyarakat
berpartisipasi aktif dalam membangun/membuat/menjaga Pralingga, Tapakan,
Pratima, dan Simbol Keagamaan lainnya, serta berpartisipasi aktif dalam praktik
pembuatan/pembelajaran Piranti Upakara Yadnya dan Pasantian.